Postingan

Kamu jalannya kejauhan, aku ketinggalan

Perlahan akhirnya aku sampai di ujung perjalananku, yang isi nya tentang berlari untuk menebak akhir cerita. Kamu yang mengajakku jalan beriringan tapi kamu pula yang meninggalkan aku dipertengahan. Kita belum mencapai garis finish, banyak rencana yang akhirnya lebur sebab kamu memilih mundur. Kamu sudah banyak berjanji untuk tetap selalu ada, tapi sekarang kamu berhasil membuatku terkapar dengan sisa-sisa isak tangis yang sulit ku redakan. Sebelum cerita ini berakhir, aku sempat menyiapkan skenario terbaik dalam perjalanan kisah kita, tapi kamu merusak semuanya dengan sangat baik, perlahan-lahan tapi pasti. Aku merasa, aku telah tenggelam hingga ke dasar lautan, seperti sedang melebur hingga tidak ada lagi bekasnya, sedang kamu benar-benar memilih pergi tanpa kata pamit sedikitpun. Kamu lupa bahwa aku bukan si buta yang tidak mampu melihat hal baik lainnya, sekarang aku benar-benar ikut mundur untuk tidak lagi mengejar langkahmu. Kamu pergi dengan penuh sia-sia sedang aku mundur denga...

semesta berperan

Dari sekian banyak kata yang sudah ku rangkai menjadi kalimat indah, tetap saja ternyata kamu pemenangnya, sebagai kata yang menjadi tokoh utamanya. Mau aku berlari ke ujung dunia sekalipun untuk memahami kata yang lain, tetap kamu yang terbaik. Sudah sejauh ini tulisanku hanya berputar tentang kamu, tentang segala bentuk kisah baikmu. Dulu aku menemukanmu dengan warna yang biasa, ku anggap kamu hanya sekedar melintas tapi ternyata aku salah kini kamu berubah menjadi banyak warna yang indah dan tak lagi hanya sekedar melintas tapi kamu selalu berlalu lalang melewatiku menemani setiap bentuk sedih dan tawaku. Aku melukis kamu dalam tulisan, menjabarkan setiap hal indah dalam dirimu. Lagi-lagi, aku menjadi sesuatu yang begitu berlebihan dalam mengingatmu, aku bahkan melupakan segala bentuk perjuangan hebatku dalam mendapatkanmu. Hingga di suatu waktu aku pernah bertanya pada semesta, sebenarnya rasaku benar-benar bermuara kepadamu atau hanya sebatas kagum biasa, sampai pada akhirnya aku ...

Tumbuh

Pada debur ombak yang menghantam karang, pada matari yang tenggelam di selanya. Sore itu, dermaga sedang sepi. Aku ingin melebur ditengah-tengah samudera dengan seisi semesta yang ada. Izin menyerah untuk kali ini saja, aku ingin menghilang dari banyaknya perasaan rumit yang memenuhi isi kepala, sesekali biarkan aku menjadi air yang mengalir dengan tenang tanpa harus ditahan untuk mencari jalan keluar. Aku ingin berdamai dengan seisi semesta, menghabiskan sisa waktu dengan bersuka ria, tidak melulu memikirkan esok harus jadi apa. Sebab, takdir adalah kepunyaan sang Pencipta, aku hanyalah serpihan abu yang tak mampu melawannya. Biarkan aku diterkam guntur saat melewati gunung-gunung tinggi itu, biarkan aku jatuh saat terlalu kencang berlari, biarkan aku kelaparan saat tak lagi ada nasi. Bahagia bukan tentang banyaknya harta dan kemewahan, bahagia dimulai dari riuh cukupnya rasa syukur. Aku sudah dewasa, sudah mampu membedakan baik dan buruk untuk diriku sendiri, kalau aku tetap d...

Rumah bagimu

Aku menemukan teduh pada sepasang matanya, meski hanya diam-diam saja aku memandanginya. Ucapku dalam hati; kelak, aku akan menikmatinya setiap saat dan tak perlu lagi secara diam-diam. Aku tak ingin berlari terlalu kencang untuk mengejarmu, kalau memang semestinya kamu adalah milikku, kamu pasti akan pulang menujuku. Aku adalah rumah untukmu, tempat tinggal untuk menjamu mu, meski seringkali aku tertinggal jauh olehmu, aku tetap utuh sebagai bagian dalam perjalanan panjangmu. Kamu memang senang berkelana, kesana-kemari dengan membawa banyak teka-teki yang sulit aku mengerti, maka izinkan aku menujumu dengan membawa banyak jawaban atas semua yang kamu berikan selama ini. Kalau memang pada akhirnya semesta memintaku untuk bersepakat dengannya, bahwa untuk memilikimu aku harus meluaskan sabar hingga tak terbentang, maka aku sanggup.

Membenahi yang berantakan

Seringkali, barangkali, mungkin; tubuhku pernah hancur lebur sebab perkataan seseorang yang menyakiti, setelah ku ingat ternyata aku pernah merawat luka-luka yang menghancurkan banyak dunia dalam isi kepalaku. Yang pada akhirnya harus ku benahi dengan perlahan, hingga menjadi seperti sedia kala. Ku pikir akan indah jika diperbaiki dengan teliti dan hati-hati, tapi ternyata tidak. Aku memang sembuh dari sakitnya tapi tidak dengan bentuk lukanya. Ia tetap hancur meski telah coba dibenahi, tetap usang meski telah disayangi. Aku memahami banyak hal setelah itu, mulai mencintai diri sendiri dengan tidak lagi mendengarkan perkataan-perkataan buruk dari orang lain, tetap meluaskan maaf untuk mereka yang menyakiti, memaafkan diri sendiri dan mencintai diri sendiri dengan lebih baik. Aku yang telah kehilangan diriku, sekarang sudah kembali dengan versi terbaiknya, sudah sembuh dengan penuh ikhlasnya, sudah tumbuh kembali dengan semangatnya, dan sudah bahagia dengan rasa cukupnya.

Menanak nasi dan minum teh hangat di halaman rumah-

Saat usia mulai meranjak tua, saat rambut kian memutih, saat kulit kian mengeriput. Aku ada, disampingmu. Bersama merawat bunga-bunga di halaman, menanak nasi untuk dimakan sepiring berdua, meminum teh hangat saat senja tiba. Kita habiskan sisa waktu, saling memeluk dengan sisa tenaga, kamu dan aku berdampingan, selalu. Semoga denganmu, riuh syukur tetap terucap, meski dengan banyaknya sederhana yang dimiliki. Mencukupkan banyak hal dengan mencintaimu, hidup bahagia dengan penuh kasih. Jika halaman itu luasnya sepetak, percayalah jauh dari itu perasaan kita lebih luas dan tak berdiameter.

//

Di antara banyak hal yang hadir dalam hidupku; ternyata peranmu cukup penting, pernah membersamai aku. Hingga tanpa ku sadari, kamu benar-benar begitu penting, sebab di lubuk perasaan yang begitu dalam ternyata kamu masih hidup disana sebagai seseorang yang kucintai. Aku pernah menepis akan hal itu, tapi tetap saja yang ku cari-cari hingga pagi buta tetap hanya kamu. Di setiap pecahan udara, ia bukan hadir sekedar memberi rasa dingin tapi juga rindu-rindu yang syahdu. Sudah lama kamu hilang dari genggaman, tapi ingatan segala hal tentangmu masih membersamaiku dengan baik. Pernahkah kamu mencariku? Padamu, sudah ku titipkan banyak harap, banyak rasa serta banyak penerimaan. Aku? Selalu mencarimu, meski berlembar-lembar ragu mengutuk hari-hariku. Mungkin kamu tak tahu, bagaimana nelangsanya hidupku tanpamu. Setiap mengingatmu adalah, lembar-lembar harap yang tak kunjung tercapai. Bagiku, kamu adalah tempat pulang terindah sebagai rumah yang membuatku tak ingin pindah. Meski, bag...